Affiliate Program ”Get Money from your Website”
Tampilkan postingan dengan label Museum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Museum. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Mei 2012

sejarah yang terlupakan " Operasi Trikora"

Operasi Trikora atau Operasi Djajawidjaja (1962) ternyata masih menyimpan banyak kisah. Catatan kontak radio terakhir Komodor Laut Yos Sudarso yang selama ini disimpan Didimus Letsoin, 71 tahun, staf PHB Lanud Langgur, misalnya, boleh jadi akan menyingkap misteri tenggelamnya RI Matjan Tutul pengangkut Peleton Intai Tugas Istimewa TNI AD. Mari Langgur terbetik pula cerita tentang mess berpenjagaan ketat yang disiapkan khusus untuk penerbang AURI yang siap mati demi tugas. Mari dua fakta ini saja sudah terbayang, betapa dahsyatnya aksi militer yang bakal digelar.
Fakta-fakta heroik di seputar serangan untuk merebut

kembali Irian Barat tersebut kami urai dalam Edisi Koleksi Angkasa berjudul Operasi Udara Trikora. Buku ini harus Anda baca, karena dari sini Anda akan tahu betapa Indonesia pernah begitu berani melawan negara lain yang menginjak-injak kehormatan Bangsa. Sadar bahwa nasib Indonesia kerap dipermainkan di meja perundingan internasional, Bung Karno mendatangkan berbagai persenjataan berdaya tangkal tinggi dari Uni Soviet. Militer Indonesia kemudian menjadi yang terbesar di belahan Bumi selatan, dan dunia pun tahu seperti apa wajah negeri ini jika sedang marah.
Begitu pun, sang panglima sadar akan segala risikonya. ” Oleh karena itu, saya akan memberikan waktu selama satu menit kepada mereka yang mungkin ingin mengundurkan diri,” tegas Mayjen Soeharto dihadapan pasukan pertama yang akan diterjunkan di Merauke dengan C-130 Hercules. Lewat buku ini pula Anda akan kami ajak “melihat” kehebatan strategi dan detail operasi serangan udara yang dipersiapkan para perwira AURI. Semua sangat mematikan, sampai-sampai AS yang baru saja mengalahkan Jepang dalam Perang Pasifik, terbelalak melihatnya. Belanda ternyata tak sehebat yang diperkirakan sebelumnya.

sumber : diambil dari berbagai sumber

Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal

Rabu, 25 April 2012

Tugu Yogyakarta Tempo Dulu



Tugu Yogyakarta adalah sebuah tugu atau menara yang sering dipakai sebagai simbol/lambang dari kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta. Tugu yang terletak di perempatan Jl Jenderal Sudirman dan Jl. Pangeran Mangkubumi ini, mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, kraton Jogja dan gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi. 


Sejarahnya


Tugu Yogyakarta atau yang lebih dikenal sebagai Tugu Malioboro ini mempunyai nama lain Tugu Golong Gilig atau Tugu Pal Putih merupakan penanda batas utara kota tua Yogya. Tugu Yogya bukanlah tugu sembarang, tapi tugu Yogya ini adalah tugu yang memiliki mitos yang sangat bersejarah dan sejuta misteri di dalamnya, sehingga menjadi salah satu keistimewaan yang dimiliki kota Yogya.


Tugu Yogya dibangun pada tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, pendiri kraton Yogyakarta yang mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan Laut Selatan, Kraton Yogya dan Gunung Merapi.

Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan.Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), hingga akhirnya dinamakan Tugu Golong-Gilig.Keberadaan Tugu ini juga sebagai patokan arah ketika Sri Sultan Hamengku Buwono I pada waktu itu melakukan meditasi, yang menghadap puncak gunung Merapi. Bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas, sementara bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar, sedangkan bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu golong gilig ini pada awalnya mencapai 25 meter.

Kondisi Tugu Yogya ini berubah total pada 10 Juni 1867, di mana saat itu terjadi bencana alam gempa bumi besar yang mengguncang Yogyakarta, yang membuat bangunan tugu runtuh. Runtuhnya tugu karena gempa inilah yang membuat keadaan dalam kondisi transisi karena makna persatuan benar-benar tak tercermin pada bangunan tugu.

Pada tahun 1889, keadaan Tugu benar-benar berubah, saat pemerintah Belanda merenovasi seluruh bangunan tugu. Kala itu Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing.

Ketinggian bangunan pun menjadi lebih rendah, yakni hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itulah, tugu ini disebut sebagai De White Paal atau Tugu Pal Putih. Perombakan bangunan Tugu saat itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja, namun melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, akhirnya upaya tersebut tidak berhasil.

Sumber : Diambil dari berbagai sumber

Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal